Nazaruddin Azhar
di kelam kabut
telah kudengar keluhkesahmu.
Di reruncing jarum kompas yang liar
wajahmu tak pernah benar-benar bisa disamarkan waktu.
Adakah penjelasan atas segala yang tak terhindarkan?
seumpama rongga di kelam kabut, celah-celah di hatiku
terbuka bahkan untuk getar suara dari kepak sesayup gema
sepasang sayap letihmu sampai padaku
membawa serta asin udara lain
tapi aroma kematian lebih kekal dari perasaan apa pun
kita pernah memilih sepi sekedar untuk sembunyi. Tapi
bagaimana mungkin bisa kuhilangkan Sabtu
dari seluruh hari-hariku?
2005
Tampilkan postingan dengan label puisi nazaruddin azhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi nazaruddin azhar. Tampilkan semua postingan
Rabu, 09 Desember 2009
Sekeping Uang Logam
Nazaruddin Azhar
sekeping uang logam
sekeping uang logam menandai kesementaraanku
saat warung-warung setengah terbuka melemparku
dengan cangkang gincu. Tawa perempuan
di balik batu akik membuat ngilu ruas jariku
o, gerinda mimpi yang kasar! Mereka menggerayang
ke balik celana jins bertambal wajah tuhan
tapi tak kutemukan desahmu di bokong perawan berseragam
di kerling para penghuni keisengan. Pada retakan angin
sajakku lebih dingin dari tiupan malam paling rawan.
ingin kujumpai kamu, dengan sekeping uang logam
yang gemerincing di antara ruas usiaku. Apakah kau
memasang tarif untuk sebuah kesetiaan?
dengarlah, tengah kusiulkan namamu untuk lelawa yang riang.
Kubungkukkan wujudku pada redup lampu
sambil kuciptakan gang-gang lain, jalan melingkar yang sedikit licin
untuk mencapaimu. Kau pun mungkin butuh variasi
saat harus melihat seseorang menghampirimu, bukan?
dan, wahai, yang bersekutu dengan arus sungai-sungai
kenapa pula kalian memanggilku dengan rintih temaram itu?
2005
sekeping uang logam
sekeping uang logam menandai kesementaraanku
saat warung-warung setengah terbuka melemparku
dengan cangkang gincu. Tawa perempuan
di balik batu akik membuat ngilu ruas jariku
o, gerinda mimpi yang kasar! Mereka menggerayang
ke balik celana jins bertambal wajah tuhan
tapi tak kutemukan desahmu di bokong perawan berseragam
di kerling para penghuni keisengan. Pada retakan angin
sajakku lebih dingin dari tiupan malam paling rawan.
ingin kujumpai kamu, dengan sekeping uang logam
yang gemerincing di antara ruas usiaku. Apakah kau
memasang tarif untuk sebuah kesetiaan?
dengarlah, tengah kusiulkan namamu untuk lelawa yang riang.
Kubungkukkan wujudku pada redup lampu
sambil kuciptakan gang-gang lain, jalan melingkar yang sedikit licin
untuk mencapaimu. Kau pun mungkin butuh variasi
saat harus melihat seseorang menghampirimu, bukan?
dan, wahai, yang bersekutu dengan arus sungai-sungai
kenapa pula kalian memanggilku dengan rintih temaram itu?
2005
Selasa, 06 Oktober 2009
dil se*
setelah ledakan dan api membakar hangus raga kita
apakah kau masih merasa, debu yang bercampur
akan terus saling bertentangan? Cinta yang utuh
dalam dekapan sesaat itu, telah jadi gerbang untuk sebuah
lakon lain, mungkin sejarah panjang yang kelak tersurat
di puing salju, tercetak di lembar suhu yang melapis tembok beku
di udara pasar di mana setiap orang sempat kehilangan makna tegur sapa
di corong-corong suara setelah tak ada lagi ketakutan
untuk mengakui segala kealfaan
tak akan ada barisan yang lewat. Sebuah parade atau hymne
atau para pelayat. Hanya sepasang sayap untuk kemerdekaan
yang tak akan lagi dirisaukan. Di tanah-tanah pertaruhan telah terkubur
jasad kita yang lain. Dan nyanyian anak-anak di sebuah perayaan
akan sampai gemanya. Delapan bocah yang tak terlahirkan. Kain sari
yang akan tetap terlipat di awan sebuah stasiun pertemuan
dan tumpahan dua gelas teh panas di alir hujan. Gerincing gelang kaki
yang pernah kautanggalkan saat kaulewati tubuh-tubuh mongering
akan kaudengar kembali di antara lantun doa di kuil-kuil pengharapan
di deru darah lukamu sebuah perahu telah memilih kebebasan
tidak dengan seikat bom bunuh diri, tapi dengan tafsir lain yang hadir
saat sepi, saat pepujian dilangunkan, saat tak ada harap lain…
2002
*) judul sebuah film karya sineas India terkemuka Mani Ratnam (1998)
apakah kau masih merasa, debu yang bercampur
akan terus saling bertentangan? Cinta yang utuh
dalam dekapan sesaat itu, telah jadi gerbang untuk sebuah
lakon lain, mungkin sejarah panjang yang kelak tersurat
di puing salju, tercetak di lembar suhu yang melapis tembok beku
di udara pasar di mana setiap orang sempat kehilangan makna tegur sapa
di corong-corong suara setelah tak ada lagi ketakutan
untuk mengakui segala kealfaan
tak akan ada barisan yang lewat. Sebuah parade atau hymne
atau para pelayat. Hanya sepasang sayap untuk kemerdekaan
yang tak akan lagi dirisaukan. Di tanah-tanah pertaruhan telah terkubur
jasad kita yang lain. Dan nyanyian anak-anak di sebuah perayaan
akan sampai gemanya. Delapan bocah yang tak terlahirkan. Kain sari
yang akan tetap terlipat di awan sebuah stasiun pertemuan
dan tumpahan dua gelas teh panas di alir hujan. Gerincing gelang kaki
yang pernah kautanggalkan saat kaulewati tubuh-tubuh mongering
akan kaudengar kembali di antara lantun doa di kuil-kuil pengharapan
di deru darah lukamu sebuah perahu telah memilih kebebasan
tidak dengan seikat bom bunuh diri, tapi dengan tafsir lain yang hadir
saat sepi, saat pepujian dilangunkan, saat tak ada harap lain…
2002
*) judul sebuah film karya sineas India terkemuka Mani Ratnam (1998)
remah-remah cahaya
bulan yang terbunuh di siang gelap
ruhnya berkelebat di atas atap
digapai sebatang pohon gaib
yang tumbuh dari ubin
dan memecah langit-langit
angin melolong dari kobaran api sebuah hutan
memanggili mataair pada sebuah lukisan
di mana kuikatkan kelabu rambutku
di mana senantiasa kuhirup bau ruang tunggu
sekarat hening yang disentuh dentang lonceng
dari kedalaman dinding
sepotong tikungan yang terbakar, mayat bulan
terkubur nyanyian kehampaan. Kukenang
o, usia yang merangkai remah-remah cahaya
yang ditaburkan ingatanku padanya!
1994-2007
ruhnya berkelebat di atas atap
digapai sebatang pohon gaib
yang tumbuh dari ubin
dan memecah langit-langit
angin melolong dari kobaran api sebuah hutan
memanggili mataair pada sebuah lukisan
di mana kuikatkan kelabu rambutku
di mana senantiasa kuhirup bau ruang tunggu
sekarat hening yang disentuh dentang lonceng
dari kedalaman dinding
sepotong tikungan yang terbakar, mayat bulan
terkubur nyanyian kehampaan. Kukenang
o, usia yang merangkai remah-remah cahaya
yang ditaburkan ingatanku padanya!
1994-2007
menujumu
kuburu dekatmu, kelebat paras di gemuruh silam cakrawala
awan hitam memusnahkan bayanganku dan di sepanjang jalan
bertumbuhan tiang-tiang kegelapan. Kupacu sisa nyawaku
tubuh yang bukan milikku selalu ingin menyeret ke arah berbeda
tapi menujumu bukanlah rindu yang sia-sia
kuburu adamu. Tawa orang-orang tak bernama di palung senja
bagai bubu. Cinta fakirku meliatkan ingatan untuk seluruh waktu
yang bukan milikku. Dan di seberang segala kemusnahan
setubuh sepimu adalah ketelanjanganku
di mana segenap keliaran tak terbinasakan
telah kulewati bekas telaga yang tak pernah usai itu
bangkai perahu kini dihuni beribu hantu. Lampu-lampu
menyimpan gerimis tak pernah lunas menyapu gelap
di ujung mabukku. Di nadiku seekor anjing menyimpan salaknya
saat sejenak kuserahkan letihku pada sebuah rambu
mungkin di situ pernah tergambar wajahmu, dengan tatapan aneh
ketika nyaris saja seluruh malam menampikmu sebagai ibu
ya, aku menujumu. Di sebuah mana kutahu kau akan selalu menunggu
dan sebagai penghiburan bagi cinta yang tak pernah bisa kumusnahkan kubayangkan kau tersenyum menggenapkan mimpi dan kegilaan ini
seperti sepi yang telanjur memiliki adaku
telah kulewati bekas belantara di mana kini tumbuh benih nyawa
dari sekumpulan iblis yang dulu berbaris di belakangku
mereka setia sebelum kibaran kutukmu membatukan berahiku
tak kudengar suara tambur. Kini tak kukenali keturunan mereka
yang kebuasannya semakin modern, dengan ketakutan
disembunyikan sempurna, di balik kilatan belati atau pistol
di samping kelamin. Telah kutanggalkan semua selain getar
di kilat mata debu. Dan di tiang-tiang kegelapan
kusimpan tanda, sepercik cahaya dari pendar mata anjing itu
sebelum ajalnya kusempurnakan sepenuh cintaku. Mungkin nanti
ada yang mencari jejakku, para pemuja atau para pembenci
biarkan mereka tahu, berabad lamanya kuburu hadirmu
melewati ketiadaan demi ketiadaan, dan kau tahu, Sumbi
betapa menyakitkan merindukanmu
dari sebuah dongeng panjang tentang kemalangan
kuburu kuburku. Kuburu makam terdekat dari perasaanku padamu
di bekas telaga ini, di antara bau tubuh para pelayat
aku serupa ikan dengan sirip yang terus tumbuh
sekaligus melukai sekujur hatiku, di mana gema nafasmu
tak juga reda membunuh dan melahirkanku
2007
awan hitam memusnahkan bayanganku dan di sepanjang jalan
bertumbuhan tiang-tiang kegelapan. Kupacu sisa nyawaku
tubuh yang bukan milikku selalu ingin menyeret ke arah berbeda
tapi menujumu bukanlah rindu yang sia-sia
kuburu adamu. Tawa orang-orang tak bernama di palung senja
bagai bubu. Cinta fakirku meliatkan ingatan untuk seluruh waktu
yang bukan milikku. Dan di seberang segala kemusnahan
setubuh sepimu adalah ketelanjanganku
di mana segenap keliaran tak terbinasakan
telah kulewati bekas telaga yang tak pernah usai itu
bangkai perahu kini dihuni beribu hantu. Lampu-lampu
menyimpan gerimis tak pernah lunas menyapu gelap
di ujung mabukku. Di nadiku seekor anjing menyimpan salaknya
saat sejenak kuserahkan letihku pada sebuah rambu
mungkin di situ pernah tergambar wajahmu, dengan tatapan aneh
ketika nyaris saja seluruh malam menampikmu sebagai ibu
ya, aku menujumu. Di sebuah mana kutahu kau akan selalu menunggu
dan sebagai penghiburan bagi cinta yang tak pernah bisa kumusnahkan kubayangkan kau tersenyum menggenapkan mimpi dan kegilaan ini
seperti sepi yang telanjur memiliki adaku
telah kulewati bekas belantara di mana kini tumbuh benih nyawa
dari sekumpulan iblis yang dulu berbaris di belakangku
mereka setia sebelum kibaran kutukmu membatukan berahiku
tak kudengar suara tambur. Kini tak kukenali keturunan mereka
yang kebuasannya semakin modern, dengan ketakutan
disembunyikan sempurna, di balik kilatan belati atau pistol
di samping kelamin. Telah kutanggalkan semua selain getar
di kilat mata debu. Dan di tiang-tiang kegelapan
kusimpan tanda, sepercik cahaya dari pendar mata anjing itu
sebelum ajalnya kusempurnakan sepenuh cintaku. Mungkin nanti
ada yang mencari jejakku, para pemuja atau para pembenci
biarkan mereka tahu, berabad lamanya kuburu hadirmu
melewati ketiadaan demi ketiadaan, dan kau tahu, Sumbi
betapa menyakitkan merindukanmu
dari sebuah dongeng panjang tentang kemalangan
kuburu kuburku. Kuburu makam terdekat dari perasaanku padamu
di bekas telaga ini, di antara bau tubuh para pelayat
aku serupa ikan dengan sirip yang terus tumbuh
sekaligus melukai sekujur hatiku, di mana gema nafasmu
tak juga reda membunuh dan melahirkanku
2007
Langganan:
Postingan (Atom)
